Monday, 10 September 2012

Resepi dan Kata* (Cinta)

Aku mencium baunya
sebelum mengenalmu
Kau telah menciumnya
sebelum mengenalku.

Katakan ia longgokan
kata-kata dan kalimat
digauli dalam rempah,
dimasak dari tangan kasih.

Sederhana pengucapan
dalam kembara diri
resepinya tetap mudah,
dan mengundang selera.

Dari hujung lidah
sampai menelannya.
Jarang jemu, apa lagi
memaling wajah.

Honira
10 Ogos 2012

*ITBM









Bulan Tenggelam* (Cinta)

Semalam melayang
tanpa bersayap
bulan tenggelam
seperti sebiji aspirin
ke dalam laut.

Sandakan
9 Oktober 2012


Friday, 7 September 2012

Kata-Kata* (Majnun) (Indah)

Haruskah aku menyatakan isi hati pada dunia
tanpa berahsia atau berpura-pura berselindung
dalam bayang-bayang kata dan makna sebuah
kalimat. Aku majnun dengan kata-kata. Lalu
aku mencintaimu. Lembahku, lembah kata dan
langitku, langit penuh dengan kata. Seribu kata
tak mencukupi bagiku. Tambah lagi seluas benua,
seluas samudera lautan dan pulau-pulau menjadi
timbunan kata-kata. Aku majnun padamu. Aku
rindu padamu. Kata dan kalimat bergandingan,
kita melangkah dan mendaki gunung bersama.
Menuruni lembah dan mengharung gurun. Kau,
adalah kekasihku, juga adalah sahabatku dan aku
tak akan pernah memusuhimu. Aku baring sendiri,
di sini, terlentang di dataran ini, di sekelilingku adalah
lautan kata dan kalimat sedang langit menurunkan
hujan gerimis dan aku tak pernah merasa terdera.
sentuhan kata dan kalimat jatuh berhamburan
menyapu wajahku. Kalau ini dipanggil majnun,
katakanlah sesuka hatimu. Aku tak akan marah.
Apa lagi berbalas dendam kepadamu, jauh dari
sudut hatiku. Kata dan kalimat, adalah wangi taman
di musim semi merangsang aroma dan indera.
Kata-kataku kasih sayang bukan dendam kesumat.
Bahasaku adalah kata dan kalimat yang hidup.
Cintaku padamu bukan dipaksa-paksa, tapi lahir
dari impian dan harapan. Tiap waktu, dalam suka dan duka
aku ingin selalu bersamamu. Aku tak ingin, di
pisahkan walau hanya sesaat, sehari, apalagi
seminggu. Setahun. Tak sanggup. Sekalipun berada di
tanah asing dan langit asing, aku tak akan
sanggup berpisah denganmu. Apa lagi berjauhan.
Mati hidupku akan selalu bersamamu. Kau,
mententeramkan jiwaku yang gelisah, Kau, selalu
berada di barisan depan, siap siaga. Kata dan kalimat
adalah dari sumber mata airku, tak pernah kering
kerana, langit-Mu senantiasa menurunkan takaran
hujan yang tepat dan sesuai. Bagaimana aku bisa
menyatakan sangat kasih padamu, kerana itu bisa
jadi takabur. Ampun, ya, ampun, Ya Tuhan Rahman.
Aku mencintai kata dan kalimat kerana Kau ajarkan.
Kata dan kalimat adalah darah merah mengalir
dalam tubuhku, mengalir dalam gelombang udara
dan senantiasa menjadi tonic dalam sukmaku.
Bagaimana aku menjadi bangsa yang besar?
Tanpa kata dan kalimat, aku tak merdeka. Tak merdeka.
Biar, bahasaku majnun kerana mencintaimu.

Honiara
8 September 2012
*ITBM



Wednesday, 5 September 2012

Puisi* (Puisi)(Metamorposis)

Sekarang aku telah siap menjawabmu
pertanyaan awal yang tak terjawab di
malam gerhana atau purnama penuh
Ketika aku menurunkan huruf kata
lalu tercantum menjadi sebuah puisi
sambil mencicip limau kesturi melihat
Serindip terbang melintas jendela langit.
Aku sedar setiap anak kata lincah,
segar dan tampan bermain di halaman
sukma. Mereka, kata-kata yang hidup
bagai bintang-bintang gemerlapan
di malam purnama. Mereka adalah
soldadu siap dikerahkan di barisan
depan. Atau menjadi tembuk besar
merintangi benua ke benua, langit ke
langit, samudera ke samudera. Mereka
bukan kata-kata yang terhukum atau
hamba yang terbelenggu, tanpa suara
tanpa jiwa. Mereka merdeka. Merdeka
dalam pengucapan, merdeka di lembah
dan dataran, sebingkas kuda semberani,
bila tercantum menjadi melodi terindah
melunakan seorang kekasih dan memberi
nafas kepada doa-doa, segar dan hidup.

Honiara
6 September 2012





Monday, 3 September 2012

Adagio*(Wadah DBP CS Disember 2012) (Terbit)

Tiap huruf kubisikan ke telingamu
seperti anak kecil, kekadang bertanya
berulang-kali, dan tak pernah puas
dan aku menjawabmu sabar sampai
kepuasan terasa pada kerdip matamu.
Adagio. Dalam keterasingan, selalu
didambakan, datanglah walaupun
hanya sebentar seperti burung Serindip
terbang sekawan, hinggap di ranting.
Ada suatu saat dalam keramaian atau
duduk menyepi suaramu muncul dalam
pakatan rindu. Adagio. Kau memang
beda satu dalam ratusan. Tinggi rendah
suaramu, menipis dalam gelombang udara.
Tiap kata menyerap ke pembuluh darah,
berdegup dalam gegendang telinga, lalu
menjadi musik piano, sukmaku tersentuh.
Adagio, jejarimu terus menari di lembah rasa
genta bait-bait puisi indah dalam gelisah tercipta.
Keindahanmu. Aku tak akan berhenti di sini.

Honiara
4 September, 2012
*Terbitkan, Disember, 2012,  Majalah Wadah terbitan DBP Cawangan Sabah, (24 october, 2012)
*Puisi ini telah disiarkan 5 September, 2012 dalam segmen Sastera Muzikal Senusantara melalui DjMyFm Online lewat jam 10:00 semalam oleh Deejay bertugas Ramz-Nikoda (Sdr. Ramlee Wahab)..

Sunday, 2 September 2012

Salam di Tanah Terasing (Pasifik)

Aku duduk menghadap ke pintu
langit kabut, hujan turun sedikit
merendam debu-debu di jalanan
wajah seseorang masa lalu datang
berpijak sebentar, masuk ke dalam
seperti gemersik daun kering dari
masa silam, dan memberi salam.
Kuterima salam, terkenang wajah
itu, datang mendekat dan menjabat
tangan kemudian ia berlalu pergi.
Matanya lemah, janggut kumisnya
tak terpelihara baik. Ia berpatah balik
keluar pintu. Aku mencari wajah itu
dalam ingatan di masa-masa terasing
jauh ke dalam masa silam, di tanah
terasing. Ia jalan terhuyung-hayang
mencari tempat pegangan. Kupelajari
raut wajahnya, pintu ingatan terbuka
sedikit.  Aku mengingati wajah itu
pernah mengetuk pintu suatu senja
memberi salam, 'Assalamualaikum.'
Ia, satu daripada awal perjuangan.
Di tanah terasing ini, aku menemukan
kembali wajah dan sukma yang 
gelisah, datang sebentar bagai igau
di siang terasing. Mereka adalah benih
disemaian tumbuh, separuh, atau tak
bertunas. Sisa dari perjuangan yang
belum selesai. Selebihnya kembali
pada-Mu. Di tanah terasing,sekalipun
dalam kenangan, aku mengenangmu.

Honiara
3 September 2012

*ITBM (Bahagian II)



Salam Merdeka (Merdeka)


Aku telah dilahirkan sebelum negaraku 
merdeka. Sebelum kami menjadi bangsa. 
Sebelum lidah kami lurus berbahasa sendiri. 

Sebelum merdeka kami tak bertanah
menumpang ke sana, ke mari, berpindah-
pindah, tak bercita-cita besar, selain 
menjaga hati tuan supaya senang.
Sekarang suaramu emas, berlambang
boleh memangkah, pandai berhisab.

Orang bersorak merdeka, merdeka!
Sedang aku melihat jam kalendar.
Berdentum-dentum kembang bunga api
aku memandang keluar, melihat laut,
hujan lebat arah ke barat. Merdeka, aku sendiri.

Canberra
31 Ogos, 2012

*Antologi Kemerdekaan