Thursday, 16 August 2012

Aid Mubarak 2012, Mesapol (Ramadan)


Mesapol, aku berdiri di halamanmu
mentari Eidil Fitri terpencar
di atas bukit, jalan ke Weston.
Ramah alam: ‘Id Mubarak
hutan sekeliling berhias
hijau berkilat keemasan
burung terbang sekawan
lagu raya berkumandang
pokok getah cuti berkemas.
Sejak beberapa hari dapur
berasap memasak kelupis
tiap malam kunang-kunang
tersangkut di dahan-dahan
menjadi tanglung-tanglung
menerangi malam Lailatul Qadar.
Harum bunga kenanga dan melati
dalam udara menyerap ke dalam
sukma di malam-malam tarawi
Mesapol berdandan dan berinai
malam itu, sungaimu mengalir
membawa salam ke setiap pintu
rembulan dalam mimpimu.
Di sini aku masih mendengar
suara-suaramu yang hinggap
di anak bulan dan panggilanmu
titis madu di hujung lidah
sesekali kau menyebut nama
aku mendarahi lidahku.

Honiara
17 Ogos, 2012

Wednesday, 15 August 2012

Renungan (Boat People)

Asalnya sebuah sekolah di pulau phosphate
kini Pusat Penahanan penumpang malam
bermimpi meraih tebing pantai benua
terdampar, dan terlantar.dalam panas lautan.

Sekalipun dikirimkan kapal perang dan satellite pengintip
dan wang saku laporan tetap gerak-gerak angin dan lautan
penumpang malam masih berdatangan
seperti kalkatu di malam kelam memburu cahaya lampu.

Suara politik didengar bagai dentum guntur
mereka bersorak dan berasa: ini tindakan tepat
dan memperingatkan mereka di benua ini
penumpang malam itu wabak dan tikus-tikus perosak.

Apalah makna sebuah doa di hujung minggu
sedang yang terlucut dari lidah bahasa keras
mendorong mereka menjadi pelampau kanan
membelakangkan bangsa berdaulat dan bermartabat.

Canberra




Tuesday, 14 August 2012

Ia Menemukan Kepaknya Kembali (Boat People)


Beberapa hari ini, ia diam tak berkata walau sepatah pun
ia duduk melihat keluar jendela: jelas ia telah melayang di langit
melihat ke bawah samudera luas seperti hamparan sutera biru
berada di udara bagai malaikat: orang berkedudukan.

Ia masih tak percaya dan menduga sambil memejam mata
dirinya terbiasa dikejar-kejar dan matanya telah biasa menunduk
di pulau ini ia belajar bahasa supaya sopan dan berbudaya
dicubanya bermanis muka dan mengucap "hello".

Semuanya telah jauh dibelakang, ia meraih kemerdekaan
kapal kayu sarat penumpang malam, gelora samudera menelur doa
lenggang langit sukma terhukum: pantai kesasar jauh
tanpa monumen dan upacara selamat datang.

Nauru, kini jauh ke bawah sebagai titik: ia adalah orang terakhir
di jalan keluar ia menoleh ke kamarnya kali terakhir
seperti ia tak percaya tiap pintu dibuka: setiap langkah
menemukan kedua kepaknya kembali: Berdaulat.

Pusat Penahanan Nauru telah kosong dan sepi sementara
suara-suara penumpang malam telah pergi
tapi mereka akan terus membina 'pagar-pagar'
dan memasang loceng isyarat di setiap pelabuhan dan daratan.

Terlalu besar makna sebuah kebebasan
menemukan wajah dan terbang berkepak
berbumbung langit dan berdiri tegak menunggu tamu di rumah sendiri,
di lapangan terbang atau di pelabuhan.

Canberra

Monday, 13 August 2012

Penyelesaian Pasifik (Boat People)

Ketika mereka menitih jembatan
masuk ke dalam kapal kayu
mereka tak saling menatap
dan tak saling menegur.

Penumpang malam
bergerak di dalam gelap
menurut tanpa komentar
duduk patuh tanpa disuruh
dalam diam sukmanya
berdoa kali terakhir.

Perjalanan melelahkan
dari tanah lumpur
batu kerikil tajam dan tanah curam
ranjau, lembah maut
gaung gunung
musim silih berganti
hujan panas
dingin yang menusuk
penipu dan
janji muslihat tercampak
di tengah jalan.

Di rahang lautan
kapal kayu sarat
bermain sembunyi
antara gelombang
samudera
di bawah langit
Southern Cross.

Setiap kali
gelombang meninju
kapal kayu
terbanting jauh
antara gelombang,
sesaat injin mati
terasa perjalanan ini
telah berakhir
perjuangan yang kalah.

Di celah-celah gelombang
kapal kayu berlenggang
terpukul ke kiri dan ke kanan.
Pelabuhan terakhir
telah jauh ditinggalkan.
Pulau-pulau telah
bersembunyi ke dalam
kegelapan malam.

Tiap lenggang
dan bunyi injin
tangan menggenggam
yang tercapai
dan degup jantung melaju.
Pada penumpang malam ini
jauh di dalam sukma
mereka tau: "Untung sabut timbul."

Dalam kepungan bahaya
di situ timbul persaudaraan.
Terhimpun satu paduan suara
dari pergunungan
Hazara Afghanistan
angin gurun Iraq
desa perbatasan
Iran
delta Mekong
pulau Serindip
dan lagu dari Myanmar.

Kapal kayu melaju
di samudera
Pasifik.
Melihat Southern Cross
di langit malam
sekalipun terasa jauh
penumpang malam
masih bisa tersenyum.

Gelombang samudera
biar sebesar gunung
lenggangmu seluas Pasifik
pasti arusnya akan
membawa kami
ke Pulau Christmas,
Pulau Manus PNG,
Nauru
dan
ke benua impian.

Canberra

Friday, 10 August 2012

Menghitung hari di Pusat Penahanan (Boat People)


menghitung hari
dalam sebuah kamar terasing
duduk melihat urat tangannya.

degup jantung
perlahan dan melemah
matanya kehilangan cahaya.

dunia terperosok
di bawah tapak kaki
berulang-ulang
ia menghitung
dari satu ke seribu
seperti menghitung
bintang di langit malam
berhenti
diam.

sesekali
telinganya menangkap
gurau senda
tapi, ia tak bereaksi.

matanya
masih lekat
melihat urat
tangannya
berakhir pada
degup jantung.

hawa
di luar panas.

ramai
adalah jumlah angka.

suara itu makin menjauh
dan ia mulai tak mengenalnya.

sebuah titik
adalah perhentian terakhir
urat ini
titiknya di jantung.

hening
kau terus memanggil
aku tak menjawab.

menghitung hari
dalam sebuah kamar terasing
duduk melihat urat tangannya.

mentari turun
menjadi gumpalan cahaya
menyerap ke dalam
urat sampai ke jantungnya.

 Honiara
11 Ogos, 2012

Tuesday, 7 August 2012

Nota dari Pusat Penahanan (Boat People)

waktu memang tak pernah diam
bergerak terus ke destinasi
kekadang banyak pula berhenti
berputar dalam lingkaran
tanpa hujung
tiap siang itu
penungguan tak bersayap
pulau-pulau tenggelam
dalam tempurung memori
tapi, perang dalam hati
masih belum redah
dan tak tertawan.

setelah terlambung
dan tergulung
dalam gelora lautan
rindu pada pantai
pada tanah
sempadan makin menjauh
di kaki langit
ia sebutir batu kerikir
di samudera luas
tanpa negara
terasa tak terjangkau
dunia, sumbu api
yang padam.

ia melangkah
tanpa menoleh
bulan baru
di rahim langit
langkahnya terhenti
di depan pagar berduri.

Honiara
8 Ogos, 2012

Thursday, 2 August 2012

Mengapaimu Ramadan 2012*


Cahaya Ramadan turun
ibu tua di anjung
jiwanya tetap segar
sekalipun otot-ototnya melemah
kekadang hp berbunyi
suara rindu dari jauh.

Berkali-kali
matanya mengiyakan
lidahnya bersyukur.

'aku mengapaimu.
sekalipun dengan fidiya.'

Ramadan Al Mubarak
hadir di nadinya
mengalir tenang
dalam pembuluh darahnya.

Terasa kakinya melayang
matanya semakin tak awas
dingin berselindung di pojok
paru-parunya.

Ramadan Al Mubarak
kedatanganmu
dirindukan.

Honiara
3 Ogos 2012