Siang itu kami menuruni lurah
dan bukit menghadang ke laut.
kami melihat keindahan pulau
debur ombak seperti tak peduli
menghakis tebing yang bertahan.
Bunga karang mengeryik mata
laut biru pada mentari tampan.
Aku sedut udara lautmu sepuas
darah otot-ototku seperti kuda
menafsirkan tanah dan lautmu.
Kau toleh ke kanan, rambutmu
bagai terdampar di pulau kenanga
pandangnya gusar awan berinsut
ke barat seperti terapung di langit.
"Pulau ini hanya bertiang satu."
"Apa benar?"
Ombak seperti tak mengindahkan
perbualan suara dari tebing tinggi.
"Tapi mengapa masih dibenarkan
bermukim ke situ."
"Memang kehidupan itu asyik."
Mereka berpandangan dan
berpura-pura tak memahami.
Alam terus bergerak tanpa pamit
seakan berkemas-kemas pulang
Di sebuah curam tak terlalu besar
"Hanya sedikit, melompat, dik,
biar kupegang tanganmu." Kataku.
Ia berdiri, seperti kehilangan arah.
"Ayuh, hanya sedikit lagi,
kan kau sudah di pinggir."
Ia masih membisu tak bergerak.
Kulihat pepohonan hutan kelapa
senyum sinis dan tertawa kecil.
Kutatap matanya memberi kepastian
Ia menarik nafas, sekuat tenaga
lalu melompat ia tercuat ke udara
menerjang dengan kaki sekuatnya
"Alhamdulillah, lihat bertapa mudah.
mengambil keputusan dan bertindak."
Canberra
10 Mei 2012
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 10 May 2012
Wednesday, 9 May 2012
Lagu sebuah kehidupan* (Cinta)(Suasana)
Adakah kau yang berjanji, kekasih
bulan menitis dalam sedu-sedan
kau berdiri melihat puing-puing
taman yang hanggus di musim
kemarau. Debu bertebaran
angin menendang dan bergolek sendiri.
Adakah kau yang berjanji, kekasih
komet sirkah yang meletus
di saat kau tak terjaga.
Dalam tenang kerudung malam
telah kaulucutkan
kini kau menghimpun
mosaik terindah di dinding hatimu.
Adakah kau yang berjanji, kekasih
Sekali lagi datang musim bunga
ghairah langit, sekali lagi
kembali hidup. Dari menara tinggi
cahaya itu berkilauan
malaikat turun, menitip madu
pemukim lembah berkata, "labaik."
Canberra
10 Mei 2012
bulan menitis dalam sedu-sedan
kau berdiri melihat puing-puing
taman yang hanggus di musim
kemarau. Debu bertebaran
angin menendang dan bergolek sendiri.
Adakah kau yang berjanji, kekasih
komet sirkah yang meletus
di saat kau tak terjaga.
Dalam tenang kerudung malam
telah kaulucutkan
kini kau menghimpun
mosaik terindah di dinding hatimu.
Adakah kau yang berjanji, kekasih
Sekali lagi datang musim bunga
ghairah langit, sekali lagi
kembali hidup. Dari menara tinggi
cahaya itu berkilauan
malaikat turun, menitip madu
pemukim lembah berkata, "labaik."
Canberra
10 Mei 2012
Lagu Sebuah Janji* (Cinta)(Suasana)
Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
namamu yang terpahat di pohon itu
telah lama tumbang
huruf-huruf dan lambang
yang kita lukis di atas batu
telah haus dimakan waktu.
Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
segala tangisanku tumpah di lantai langit
nafasku dalam genggaman-Mu.
Aku telah datang dalam kesederhanaan
luka-luka silam telah lama tertimbus.
Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
langit kembang melati putih
aku tangan yang menghulur.
Kasyaf turun bagai air
dari tanah basah di jendela mata
menjadi pancuran berair dingin.
Kedamaianku, adalah
kedamaian gunung selepas fajar.
Canberra
10 Mei 2012
namamu yang terpahat di pohon itu
telah lama tumbang
huruf-huruf dan lambang
yang kita lukis di atas batu
telah haus dimakan waktu.
Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
segala tangisanku tumpah di lantai langit
nafasku dalam genggaman-Mu.
Aku telah datang dalam kesederhanaan
luka-luka silam telah lama tertimbus.
Pernahkah aku berjanji, aduhai kekasih
langit kembang melati putih
aku tangan yang menghulur.
Kasyaf turun bagai air
dari tanah basah di jendela mata
menjadi pancuran berair dingin.
Kedamaianku, adalah
kedamaian gunung selepas fajar.
Canberra
10 Mei 2012
Lagu Sebuah Doa (Ketuhanan)
Aku meraihmu dalam doa
kau hadir dalam patah-patah doa
ketika aku merasa rindu
aku datangimu, Ya, Rabbi.
Usah aku dikurangi
kerana aku mengingati
ia yang kukasih, dalam doa hening
yang lahir dari naluri halus
yang mengalir.
Kuingat namamu, kulihat wajahmu
suaramu dan getaran nafasmu.
Ampun Ya Rabbi, ampun.
Aku meniarap di lantai-Mu
aku menangis, memanggil-Mu
aku hangus melenting dari
percikan api-Mu.
Aku bersujud
kepalaku di atas sejadah
mengetuk pintu-Mu.
Bagai anak kecil
aku meminta tak berhenti
aku merayu sampai nafasku tersekat
air mata turun bagai air mengalir
dari lembah gunung.
Ketika kusebut kau
kekasihku, kusebut dalam doa
rinduku terlerai.
Ya, Rabbi aku ingin kebaikan
kebaikan insani, aku ingin rahmat dan
perlindungan-Mu, tanpa-Mu, kami
rumpaian laut yang hanyut.
Demi kebalkan, terangkan hati kami,
jagailah kami dengan malaikat-Mu.
Hapuskan titik-titik dosa
di hati kami. Bila siang mendatang
biar kami berkelana, takwa di dada
bila tabir malam turun kami
bersujud kepada-Mu.
Ya Rabbi, kupanggil nama-Mu
kupohon kurnia-Mu
di malam kemuning.
Ya Rabbi, kupegang tali-Mu
tak ingin kulepaskan sekalipun
bumi terbelah tujuh.
Ya, Rabbi, kerinduanku terisi
setiap resahku terjawab
setiap mohon Kau sempurnakan.
Canberra
9 Mei 2012
kau hadir dalam patah-patah doa
ketika aku merasa rindu
aku datangimu, Ya, Rabbi.
Usah aku dikurangi
kerana aku mengingati
ia yang kukasih, dalam doa hening
yang lahir dari naluri halus
yang mengalir.
Kuingat namamu, kulihat wajahmu
suaramu dan getaran nafasmu.
Ampun Ya Rabbi, ampun.
Aku meniarap di lantai-Mu
aku menangis, memanggil-Mu
aku hangus melenting dari
percikan api-Mu.
Aku bersujud
kepalaku di atas sejadah
mengetuk pintu-Mu.
Bagai anak kecil
aku meminta tak berhenti
aku merayu sampai nafasku tersekat
air mata turun bagai air mengalir
dari lembah gunung.
Ketika kusebut kau
kekasihku, kusebut dalam doa
rinduku terlerai.
Ya, Rabbi aku ingin kebaikan
kebaikan insani, aku ingin rahmat dan
perlindungan-Mu, tanpa-Mu, kami
rumpaian laut yang hanyut.
Demi kebalkan, terangkan hati kami,
jagailah kami dengan malaikat-Mu.
Hapuskan titik-titik dosa
di hati kami. Bila siang mendatang
biar kami berkelana, takwa di dada
bila tabir malam turun kami
bersujud kepada-Mu.
Ya Rabbi, kupanggil nama-Mu
kupohon kurnia-Mu
di malam kemuning.
Ya Rabbi, kupegang tali-Mu
tak ingin kulepaskan sekalipun
bumi terbelah tujuh.
Ya, Rabbi, kerinduanku terisi
setiap resahku terjawab
setiap mohon Kau sempurnakan.
Canberra
9 Mei 2012
Lagu Angin Biar Sesaat* (Cinta)(Suasana)
Teruna:
Kekasih, kucari anak matamu
tapi kau berpaling.
Sekiranya kau berikan aku sesaat
aku dan kau duduk berbual seperti dulu
memegang tanganmu
melihat ke dalam matamu
aku pasti kau dapat merasakan
debar jantung ini.
Hanya sesaat kekasih,
mengapa kau mesti berpaling
sekalipun aku begitu dekat.
Ingatkah kau, kekasih,
hembusan nafasmu
bersentuhan. Tiap kata
yang kulafazkan meresap
ke dalam jantungmu.
Kini kau menganggap aku tak
pernah ada, dan bicaraku bagai
angin lalu. Kuterima kekalahan ini.
Kalau hanya kau berikan
sesaat, kupasti kau kepunyaanku.
Ketika kau berjalan
membelakangiku, kuberdoa,
berpalinglah walau hanya sesaat
menoleh dan senyum. Itu sudah cukup
dan aku puas.
Tuhan, Engkaulah Pelindung
di Malam Durjana.
Gadis:
Aku melepaskan kau pergi
tiada khabar darimu.
Kutunggu kau, kucarimu
dalam mimpi kejora, kau tiada.
Cintaku telah musnah
hangus terbakar.
Cemburuku telah reda
kata-katamu tak bermakna.
Pergilah kau dari hidupku
telah kulepaskan semua
kenangan.
Carilah gadis lain
nikahlah ia
lepaskan aku.
Ketika kau memandangku
aku tak akan dapat
menahan panahan matamu.
Lihatlah aku, korban cinta
yang tak sampai.
Telah kuberi jawaban
padamu. Biarlah aku pergi
menikahi lelaki tau merasa
penderitaanku.
Tuhan Maha Pengampun
Kau telah aku maafkan.
Ayah Ibu Gadis:
Kami melihatmu bermenung jauh
wajahmu kelihatan kusut bagai taman
selepas hujan angin.
Rambutmu bagai rumpai
hanyut surut di pasir pantai
kau, bunga Melur,
yang terjaga di taman.
Kegembiraanmu kegembiraan kami
tapi kami melihat bulan luluh
hatimu tercuka matamu
suram dan tanpa cahaya.
Aduhai, pelamin telah disiapkan
hantaran telah diterima
keramaian akan dimulaikan
resepi telah disiapkan.
Doa kami turun-temurun
melucur sampai jauh ke jantung langit.
Adat dimuliakan
kompang mendahului acara
tamu datang bersambut.
Tapi di kamar pengantin
ia melihat kekawanan burung
terbang menjauh.
Ia bisikan pada langit
"Kukenangmu dalam doaku
Ya Rabbi, kenangan itu tak pernah menjauh
tersimpul mati di sanubari."
Khabar Langit:
Di suatu pagi indah
langit menabur bunga,
melur, kemuning dan mawar
elus gerimis membawa khabar.
Burung Kenari menyanyi lagu
musim bunga hinggap di
jendela hati.
Ya, Rabbi, Engkau yang menjadikan.
Canberra
9 Mei 2012
Kekasih, kucari anak matamu
tapi kau berpaling.
Sekiranya kau berikan aku sesaat
aku dan kau duduk berbual seperti dulu
memegang tanganmu
melihat ke dalam matamu
aku pasti kau dapat merasakan
debar jantung ini.
Hanya sesaat kekasih,
mengapa kau mesti berpaling
sekalipun aku begitu dekat.
Ingatkah kau, kekasih,
hembusan nafasmu
bersentuhan. Tiap kata
yang kulafazkan meresap
ke dalam jantungmu.
Kini kau menganggap aku tak
pernah ada, dan bicaraku bagai
angin lalu. Kuterima kekalahan ini.
Kalau hanya kau berikan
sesaat, kupasti kau kepunyaanku.
Ketika kau berjalan
membelakangiku, kuberdoa,
berpalinglah walau hanya sesaat
menoleh dan senyum. Itu sudah cukup
dan aku puas.
Tuhan, Engkaulah Pelindung
di Malam Durjana.
Gadis:
Aku melepaskan kau pergi
tiada khabar darimu.
Kutunggu kau, kucarimu
dalam mimpi kejora, kau tiada.
Cintaku telah musnah
hangus terbakar.
Cemburuku telah reda
kata-katamu tak bermakna.
Pergilah kau dari hidupku
telah kulepaskan semua
kenangan.
Carilah gadis lain
nikahlah ia
lepaskan aku.
Ketika kau memandangku
aku tak akan dapat
menahan panahan matamu.
Lihatlah aku, korban cinta
yang tak sampai.
Telah kuberi jawaban
padamu. Biarlah aku pergi
menikahi lelaki tau merasa
penderitaanku.
Tuhan Maha Pengampun
Kau telah aku maafkan.
Ayah Ibu Gadis:
Kami melihatmu bermenung jauh
wajahmu kelihatan kusut bagai taman
selepas hujan angin.
Rambutmu bagai rumpai
hanyut surut di pasir pantai
kau, bunga Melur,
yang terjaga di taman.
Kegembiraanmu kegembiraan kami
tapi kami melihat bulan luluh
hatimu tercuka matamu
suram dan tanpa cahaya.
Aduhai, pelamin telah disiapkan
hantaran telah diterima
keramaian akan dimulaikan
resepi telah disiapkan.
Doa kami turun-temurun
melucur sampai jauh ke jantung langit.
Adat dimuliakan
kompang mendahului acara
tamu datang bersambut.
Tapi di kamar pengantin
ia melihat kekawanan burung
terbang menjauh.
Ia bisikan pada langit
"Kukenangmu dalam doaku
Ya Rabbi, kenangan itu tak pernah menjauh
tersimpul mati di sanubari."
Khabar Langit:
Di suatu pagi indah
langit menabur bunga,
melur, kemuning dan mawar
elus gerimis membawa khabar.
Burung Kenari menyanyi lagu
musim bunga hinggap di
jendela hati.
Ya, Rabbi, Engkau yang menjadikan.
Canberra
9 Mei 2012
Tuesday, 8 May 2012
Gadis Dan Tekad (Perempuan)
Gadis itu bermenung sejenak. Melihat keluar jendela
hujan menitis pada kaca. Siang yang rimas. Matahari tersayat.
Matanya melirik mencari kedamaian yang hanyut.
Ia memandang tiap yang dipandang hatinya curiga.
Mengapa ia menjadi sangsi, tiap bunyi mengerakkan
degup jantungnya. sayu irama hujan, angin lalu
menyinggung bunga kemuning di halaman.
Ia menarik nafas dan memejamkan mata
memandang ke meja lalu melangkah
mengheret hatinya bersama. Ia mengigit
bibir bawahnya dan berpeluk tubuh. Dinding
saksi yang sinis. Ia merasakan langitnya tersiksa
dicarinya ketenteraman pada bulan yang terhiris.
Ia mengulum senyum lalu mengambil
lesung batu di pojokan
gerimis di lekuk matanya mengalir lesu.
resepi bersama hatinya telah
lumat menjadi sambal! Hujan telah berhenti
Ia duduk sambil tangannya menongkat dahi.
"Demi Tuhan, tak akan kubiarkan mereka menculik
bulan di ribaku."
"Kau harus menurut, kalau tidak, adat memaksamu."
Desir angin berseloroh. Gadis itu bertekad
menerpa ke dalam siang menebus takdir
sekalipun rimba membongkar rahsia dirinya.
Canberra
9 Mei 2012
hujan menitis pada kaca. Siang yang rimas. Matahari tersayat.
Matanya melirik mencari kedamaian yang hanyut.
Ia memandang tiap yang dipandang hatinya curiga.
Mengapa ia menjadi sangsi, tiap bunyi mengerakkan
degup jantungnya. sayu irama hujan, angin lalu
menyinggung bunga kemuning di halaman.
Ia menarik nafas dan memejamkan mata
memandang ke meja lalu melangkah
mengheret hatinya bersama. Ia mengigit
bibir bawahnya dan berpeluk tubuh. Dinding
saksi yang sinis. Ia merasakan langitnya tersiksa
dicarinya ketenteraman pada bulan yang terhiris.
Ia mengulum senyum lalu mengambil
lesung batu di pojokan
gerimis di lekuk matanya mengalir lesu.
resepi bersama hatinya telah
lumat menjadi sambal! Hujan telah berhenti
Ia duduk sambil tangannya menongkat dahi.
"Demi Tuhan, tak akan kubiarkan mereka menculik
bulan di ribaku."
"Kau harus menurut, kalau tidak, adat memaksamu."
Desir angin berseloroh. Gadis itu bertekad
menerpa ke dalam siang menebus takdir
sekalipun rimba membongkar rahsia dirinya.
Canberra
9 Mei 2012
Lagu Ma dan Kucing (Mama)
Ma berjalan mundar-mandir
sekejap pandangannya melihat ke luar jalan
menyelusuri pagar, melihat ke bawah ranjang
ke pinggan nasi di penjuru. Ia tiada.
Ma menaiki tangga memanggil namanya
(kepada dirinya) tak pernah ia berpergian
hujan telah berhenti. Anak-anak sekolah telah
lama pulang. Jalan legang dan sepi.
Kenderaan telah pulang dan parkir.
Ma lalu di kamar Dahlia
ia sudah lama di dalam kamarnya
malam turun sekerat-sekerat. Pintu
kamar di tingkat bawah segaja dibuka
kekasih ma belum pulang. Ia menunggu.
Mata ma setengah terpejam. Suara muezzin dari
mesjid memanggil jemaah. Dengkurnya kendur
ma berbicara sendiri. Rasa menyesal berbaur
rindu. Mata ma masih melihat ke penjuru.
Senyap.
Bagai lagu laut dan ombak
memulangkan rindu
rahsia suatu malam terjawab
senyum merekah, mata ma bercahaya.
Ia melangkah masuk dan mengelus
kaki ma, lembut dan manja.
Canberra
8 Mei 2012
sekejap pandangannya melihat ke luar jalan
menyelusuri pagar, melihat ke bawah ranjang
ke pinggan nasi di penjuru. Ia tiada.
Ma menaiki tangga memanggil namanya
(kepada dirinya) tak pernah ia berpergian
hujan telah berhenti. Anak-anak sekolah telah
lama pulang. Jalan legang dan sepi.
Kenderaan telah pulang dan parkir.
Ma lalu di kamar Dahlia
ia sudah lama di dalam kamarnya
malam turun sekerat-sekerat. Pintu
kamar di tingkat bawah segaja dibuka
kekasih ma belum pulang. Ia menunggu.
Mata ma setengah terpejam. Suara muezzin dari
mesjid memanggil jemaah. Dengkurnya kendur
ma berbicara sendiri. Rasa menyesal berbaur
rindu. Mata ma masih melihat ke penjuru.
Senyap.
Bagai lagu laut dan ombak
memulangkan rindu
rahsia suatu malam terjawab
senyum merekah, mata ma bercahaya.
Ia melangkah masuk dan mengelus
kaki ma, lembut dan manja.
Canberra
8 Mei 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)