This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 8 May 2012
Firasat Suatu Malam* (Puisi)(Metamorposis)
Aku melihat
kaca bulan jatuh
berkecai di lantai zaman
darah menitis
di sepanjang
jalan peradaban.
Canberra
8 Mei 2012
Zamrud* (Indah)(Suasana)
Kau, Zamrud, memang yang terindah
yang terindah-
tak pernah akan dibiarkan sendiri
langitmu tergoda, rimbamu menjadi
malam raksasa yang gerun.
Dalam kegelapan malam
ada pasangan mata yang mengintip
menceroboh suatu kedamaian.
Ada rembulan diciptakan
ada kijang emas lincah di bibir mata.
Kau memang burung buruan
di rimba ini kau bukan sendiri
kehormatan sebuah taman, tercabul!
Suaramu terkurung dalam bendul waktu
ketika kau ingin buka bicara
suaramu ditelan oleh rimba, gelombang laut.
Kau, Zamrud, memang yang terindah
yang terindah-
ia kembang kemuning, kiriman dari langit
jantungnya sutera merah jingga
memang ia yang terindah
lagu dari pergunungan.
Ketika terdiam, urat-urat serambinya
jadi perasa, berhati-hatilah melangkah
memang ia yang terindah
ketika cintanya terpaut ia
lebah madu di musim panas.
Canberra
8 Mei 2012
yang terindah-
tak pernah akan dibiarkan sendiri
langitmu tergoda, rimbamu menjadi
malam raksasa yang gerun.
Dalam kegelapan malam
ada pasangan mata yang mengintip
menceroboh suatu kedamaian.
Ada rembulan diciptakan
ada kijang emas lincah di bibir mata.
Kau memang burung buruan
di rimba ini kau bukan sendiri
kehormatan sebuah taman, tercabul!
Suaramu terkurung dalam bendul waktu
ketika kau ingin buka bicara
suaramu ditelan oleh rimba, gelombang laut.
Kau, Zamrud, memang yang terindah
yang terindah-
ia kembang kemuning, kiriman dari langit
jantungnya sutera merah jingga
memang ia yang terindah
lagu dari pergunungan.
Ketika terdiam, urat-urat serambinya
jadi perasa, berhati-hatilah melangkah
memang ia yang terindah
ketika cintanya terpaut ia
lebah madu di musim panas.
Canberra
8 Mei 2012
Monday, 7 May 2012
Yang Tertinggal Ini (Puisi)(Suasana)
Yang tertinggal ini tak akan kau ambil
kau telah menetak ranting, dahan dan pohon
yang tinggal akar yang
menjunam ke perut bumi.
Kau conteng bulan purnama
dengan sapuan warna hitam. Tak mengapa!
Mentari masih ramah mengirimkan cahaya
dan mendung gumpalan hujan.
Sekejap lagi hujan turun,
malaikat pun turun bercanda
"Usah menantang arus, di tamanmu
telah bersarang lebah madu."
Yang tertinggal ini tak akan kau ambil
sebuah hati mekar bunga ros
kegelapan telah berlalu, cahaya
mendakap langit, siang yang hijau.
bagai baru sembuh bingkas dari
ranjang dan membuka jendela.
Kusedut udara bagai kali pertama
alam raya memandangku seperti akan
mendapat khabar baru.
Salam buatmu, aku bilang pada mentari
yang duduk bersenang di perambian
yang tertinggal ini tak akan kau ambil,
sambil melangkah.
Canberra
8 Mei 2012
kau telah menetak ranting, dahan dan pohon
yang tinggal akar yang
menjunam ke perut bumi.
Kau conteng bulan purnama
dengan sapuan warna hitam. Tak mengapa!
Mentari masih ramah mengirimkan cahaya
dan mendung gumpalan hujan.
Sekejap lagi hujan turun,
malaikat pun turun bercanda
"Usah menantang arus, di tamanmu
telah bersarang lebah madu."
Yang tertinggal ini tak akan kau ambil
sebuah hati mekar bunga ros
kegelapan telah berlalu, cahaya
mendakap langit, siang yang hijau.
bagai baru sembuh bingkas dari
ranjang dan membuka jendela.
Kusedut udara bagai kali pertama
alam raya memandangku seperti akan
mendapat khabar baru.
Salam buatmu, aku bilang pada mentari
yang duduk bersenang di perambian
yang tertinggal ini tak akan kau ambil,
sambil melangkah.
Canberra
8 Mei 2012
Aku Dan Ma (Mama)
Suatu siang aku melihat cermin diri
ada paruh di dahi dan kepala seperti keratan
di sebuah pohon di tepi jalan.
Seruling malam mendayu aku mencari,
mencari kepastian memahami degup jantungnya
seperti anak kecil menemukan sesuatu
di halaman laut. Lalu bercerita sendiri.
Aku beryanyi kecil lagu dari
masa lalu. Laut pasang mengirim khazanah
rumpaian laut lambang kasih yang sampai.
Ya, burung helang di pohon tinggi di atas bukit
melebarkan kepaknya di langit perkasa.Turun
mengenapkan kasihnya pada laut.
Di tepi laut senja aku berdiri memandang
laut, mengagih sebuah harapan. Sepasang mata
menatap dan perlahan berpaling dari kanan
ke kiri. Degup jantungnya menabur gendang siang.
"Ya Allah, kirimkan kepadaku, kasih-Mu."
Seperti memasang lampu selepas hujan
kunang-kunang di malam remang.
Pengorbanan memang diagihkan.Lalu aku mencium
syurga pada kembang bunga ros di dahi ma.
Canberra
8hb Mei, 2012
ada paruh di dahi dan kepala seperti keratan
di sebuah pohon di tepi jalan.
Seruling malam mendayu aku mencari,
mencari kepastian memahami degup jantungnya
seperti anak kecil menemukan sesuatu
di halaman laut. Lalu bercerita sendiri.
Aku beryanyi kecil lagu dari
masa lalu. Laut pasang mengirim khazanah
rumpaian laut lambang kasih yang sampai.
Ya, burung helang di pohon tinggi di atas bukit
melebarkan kepaknya di langit perkasa.Turun
mengenapkan kasihnya pada laut.
Di tepi laut senja aku berdiri memandang
laut, mengagih sebuah harapan. Sepasang mata
menatap dan perlahan berpaling dari kanan
ke kiri. Degup jantungnya menabur gendang siang.
"Ya Allah, kirimkan kepadaku, kasih-Mu."
Seperti memasang lampu selepas hujan
kunang-kunang di malam remang.
Pengorbanan memang diagihkan.Lalu aku mencium
syurga pada kembang bunga ros di dahi ma.
Canberra
8hb Mei, 2012
Sunday, 6 May 2012
Segumpal Hati* (Puisi)(Metamorposis)
Di depan pintu ia mempersilakan masuk
senyum dan berdiri sopan, menyambut salam
tenang dan ramah.
Ruang ini sederhana tanpa hiasan dinding
lantainya bersih, ada permaidani farsi
biar siang dan malam selalu terang.
Tiap patah katanya terpelihara
hati-hati tapi melunakan yang
mendengar. Bicaranya dari kejauhan
masa silam hingga ke dinihari.
Kasih-sayangnya merangkum persada hati
menjangkau ke langit ketujuh.
Tak perlu seribu satu malam
melepaskanmu dari belenggu malam
panjang. Ini segelas air, minumlah
bawa bersama hatimu ke mari.
Canberra
7 Mei 2012
senyum dan berdiri sopan, menyambut salam
tenang dan ramah.
Ruang ini sederhana tanpa hiasan dinding
lantainya bersih, ada permaidani farsi
biar siang dan malam selalu terang.
Tiap patah katanya terpelihara
hati-hati tapi melunakan yang
mendengar. Bicaranya dari kejauhan
masa silam hingga ke dinihari.
Kasih-sayangnya merangkum persada hati
menjangkau ke langit ketujuh.
Tak perlu seribu satu malam
melepaskanmu dari belenggu malam
panjang. Ini segelas air, minumlah
bawa bersama hatimu ke mari.
Canberra
7 Mei 2012
Mei* (Cinta)(Suasana)
Bagaimana bulan Mei, aku ingin menjangkaumu
walau hanya sekilas rindu dalam mimpi kartika
dengkur nafasmu terasa bergetar di langit
menembusi malam musim gugur.
Honiara kupautmu dalam gelisah malam
lenggang laut dan terpa angin Guadacanal.
Canberra
7 April 2012
Permata* (Cinta)(Suasana)
Kudengar suaramu bagai air hujan
yang turun membasahi lembah hati
lalu aku menurunkan bait-bait puisi ini
mengalir bagai oksijen di dalam
serambi urat-urat halusmu.
Menghimpun semua harapan
dan menakluki sebuah mimpi
pakatan manis seribu daya.
Kudengar suaramu bagai laung di gunung
terasa mendekat tetapi jauh
suara itu terbang bersayap melingkari langit biru
mencarimu ketika ia pasti kau yang
terbaring di kamar sepi ia turun
lalu hadir dalam mimpimu.
Kudengar suaramu bagai menggenggam
malam lalu memeras, mengambil patinya
ketenteraman langit kedamaian lautan
adalah kami pasangan sang kekasih
yang mengali permata dari sumber-Nya.
Canberra
7 May 2012
yang turun membasahi lembah hati
lalu aku menurunkan bait-bait puisi ini
mengalir bagai oksijen di dalam
serambi urat-urat halusmu.
Menghimpun semua harapan
dan menakluki sebuah mimpi
pakatan manis seribu daya.
Kudengar suaramu bagai laung di gunung
terasa mendekat tetapi jauh
suara itu terbang bersayap melingkari langit biru
mencarimu ketika ia pasti kau yang
terbaring di kamar sepi ia turun
lalu hadir dalam mimpimu.
Kudengar suaramu bagai menggenggam
malam lalu memeras, mengambil patinya
ketenteraman langit kedamaian lautan
adalah kami pasangan sang kekasih
yang mengali permata dari sumber-Nya.
Canberra
7 May 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)