Ada masih yang belum terbuat
melihat matamu kendur
gelombang nafasmu.
langkahmu semakin terbatas
perlahan dan lemah.
Bagai air menitis
selepas hujan
membuat riak dan
bunyi sesaat jarak.
Kau semakin perasa
pada dunia sekitarmu.
Aku ingin melihatmu
makan berselera
berbual dan mengusik.
Kenangan pun semakin
rapuh dan menjauh.
Dalam bola matamu
yang redup dan kabur
kau menatap sekilas
klik, lalu berlalu
terasa ada yang masih
belum terbuat.
Canberra
7 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Sunday, 6 May 2012
Saturday, 5 May 2012
Terompah Waktu* (Metamorposis)
Nilamku, aku sedar dalam terompah waktu
kita teruji dalam empat musim mendatang
turunlah malaikat, kuselalu mendambakan
gerimis dari langit.
Ketika kau mengerang sakit jauh dari
jangkauku, kuhimpun kata-kata dalam
doa menjadi air dingin membasahi tekakmu.
Memang kau tak melepaskan dengan kata
sinar matamu cukup mengungkap yang tersirat
sedu-sedanmu melingkari rembulan
bukan kehendakku memberi kepak
terbang ke langit lalu lupa mempersiapkan dahan
supaya kau dapat hinggap dan berteduh di situ.
Nilamku, masih kuingat
udara segar musim panas
dalam rimbunan wangi bunga
senyummu bunga kemuning.
Di saat begini, kukirimkan
malaikat pendampingmu
biar hatimu tetap dingin
dalam terompah waktu.
Canberra
6 Mei 2012
kita teruji dalam empat musim mendatang
turunlah malaikat, kuselalu mendambakan
gerimis dari langit.
Ketika kau mengerang sakit jauh dari
jangkauku, kuhimpun kata-kata dalam
doa menjadi air dingin membasahi tekakmu.
Memang kau tak melepaskan dengan kata
sinar matamu cukup mengungkap yang tersirat
sedu-sedanmu melingkari rembulan
bukan kehendakku memberi kepak
terbang ke langit lalu lupa mempersiapkan dahan
supaya kau dapat hinggap dan berteduh di situ.
Nilamku, masih kuingat
udara segar musim panas
dalam rimbunan wangi bunga
senyummu bunga kemuning.
Di saat begini, kukirimkan
malaikat pendampingmu
biar hatimu tetap dingin
dalam terompah waktu.
Canberra
6 Mei 2012
Sekalipun Anak Orang Lain (Anak)
sekalipun anak orang lain
mereka itu sapaan lembut dari langit samawi
dari benih cinta datang bersiram di purnama penuh.
melihat mereka adalah cermin jati diri
di jalanan dan lorong gelap
tanpa alas kaki matanya mencari harapan.
sekalipun anak orang lain
lahir dari rahim seorang ibu
ia menjolok rembulan dalam mimpi
ia bersayap terbang ke bintang kartika
mereka bilang,
"di sini, bukan kepunyaanmu
lebih baik minggir."
ia tak mengenal huruf
kosa katanya
dipunggut dari timbunan
runtuhan kota
desa yang terperangkap
dan tersegap dalam perang.
wajahnya ranum mangga
terperogok di dalam debu di lorong gelap.
negara yang mau jadi besar
melupakan jeritan mereka
kerana mereka adalah tikus
dan anjing jalanan.
sekalipun anak orang lain
jantungnya berdegup
siang yang berdebar
malam yang gerun.
siapakah petualang yang
memburu wajah-wajah jambu merah
atau si kulit manggis?
sekalipun anak orang lain
anak kita juga
berhenti menembak mereka dengan peluru
berhenti memburu mereka.
Di timbunan sampah
di tembok sepi
di demo
di pasar malam
di pantai
di restoran
di stesyen bus
di kempen pilihan raya
di malam gelap
mereka selalu ada
kalau tidak
bebayangnya di ekor mata.
Sekalipun anak orang lain
dari adam dan hawa
kalau kau tak dapat
menghulurkan tanganmu
membelai kepalanya ketika
ketemu pun sudah mencukupi.
Sekalipun anak orang lain
angkatlah mereka
supaya mereka bisa tersenyum
dan mengucapkan terima kasih ma
Tuhan akan senyum padamu.
Canberra
6hb May, 2012
Nota: Puisi ini dalam proses penerbitan antologi puisi Kaltim-Sabah.
mereka itu sapaan lembut dari langit samawi
dari benih cinta datang bersiram di purnama penuh.
melihat mereka adalah cermin jati diri
di jalanan dan lorong gelap
tanpa alas kaki matanya mencari harapan.
sekalipun anak orang lain
lahir dari rahim seorang ibu
ia menjolok rembulan dalam mimpi
ia bersayap terbang ke bintang kartika
mereka bilang,
"di sini, bukan kepunyaanmu
lebih baik minggir."
ia tak mengenal huruf
kosa katanya
dipunggut dari timbunan
runtuhan kota
desa yang terperangkap
dan tersegap dalam perang.
wajahnya ranum mangga
terperogok di dalam debu di lorong gelap.
negara yang mau jadi besar
melupakan jeritan mereka
kerana mereka adalah tikus
dan anjing jalanan.
sekalipun anak orang lain
jantungnya berdegup
siang yang berdebar
malam yang gerun.
siapakah petualang yang
memburu wajah-wajah jambu merah
atau si kulit manggis?
sekalipun anak orang lain
anak kita juga
berhenti menembak mereka dengan peluru
berhenti memburu mereka.
Di timbunan sampah
di tembok sepi
di demo
di pasar malam
di pantai
di restoran
di stesyen bus
di kempen pilihan raya
di malam gelap
mereka selalu ada
kalau tidak
bebayangnya di ekor mata.
Sekalipun anak orang lain
dari adam dan hawa
kalau kau tak dapat
menghulurkan tanganmu
membelai kepalanya ketika
ketemu pun sudah mencukupi.
Sekalipun anak orang lain
angkatlah mereka
supaya mereka bisa tersenyum
dan mengucapkan terima kasih ma
Tuhan akan senyum padamu.
Canberra
6hb May, 2012
Nota: Puisi ini dalam proses penerbitan antologi puisi Kaltim-Sabah.
Friday, 4 May 2012
Harimau Terkurung (Hewan)
Di pagar jerasi besi, aku berguman
melihatmu tanpa warna.
Dalam mimpi gerun musim panas
aku mengenangkan rimba jati
aku mengenangkan tanah leluhur
aku mengenangkanmu Max Havelaar
aku mengenangkanmu Saïjah and Adinda
aku mengenangkanmu kubang, kerbau desa
aku mengenangkanmu, moyangku.
Tiap hari aku melihat
wajah-wajah kelabu memegang jeraji besi
mereka memuji aku raja rimba
mereka memanggilku Satu
di zoo Taronga.
Aku terus mencium baumu, Jamilah
syawat amarah bergelodak
ketika musim berahi memuncak
mereka mengawinkan kami.
Mereka mensifatkan diriku garang dan buas.
Dari jauh, terpisah
aku melihatmu, Jamilah
-anakku Kartika, Sati dan kembali
menyusu dan bermain denganmu.
Langit Sydney kelabu
hujan menitis
kamera dan juru gambar
reporter berhimpitan.
Mereka terpanggil mengadakan Press Conference.
Jurucakap berkata,
"Harimau Sumetera
yang dibimbangkan pupus
kini berrtambah sedikit di Taronga."
"What the hell! kalau memang aku raja rimba di sini!"
Canberra
5 Mei 2012
melihatmu tanpa warna.
Dalam mimpi gerun musim panas
aku mengenangkan rimba jati
aku mengenangkan tanah leluhur
aku mengenangkanmu Max Havelaar
aku mengenangkanmu Saïjah and Adinda
aku mengenangkanmu kubang, kerbau desa
aku mengenangkanmu, moyangku.
Tiap hari aku melihat
wajah-wajah kelabu memegang jeraji besi
mereka memuji aku raja rimba
mereka memanggilku Satu
di zoo Taronga.
Aku terus mencium baumu, Jamilah
syawat amarah bergelodak
ketika musim berahi memuncak
mereka mengawinkan kami.
Mereka mensifatkan diriku garang dan buas.
Dari jauh, terpisah
aku melihatmu, Jamilah
-anakku Kartika, Sati dan kembali
menyusu dan bermain denganmu.
Langit Sydney kelabu
hujan menitis
kamera dan juru gambar
reporter berhimpitan.
Mereka terpanggil mengadakan Press Conference.
Jurucakap berkata,
"Harimau Sumetera
yang dibimbangkan pupus
kini berrtambah sedikit di Taronga."
"What the hell! kalau memang aku raja rimba di sini!"
Canberra
5 Mei 2012
Layang-Layang Kertas (Anak)
Layang-layang kertas
bangkitlah angin barat
antara laut dan pantai
aku menghulur benang
melayanglah ke atas.
Kau melayang ke kanan,
bergerak sedikit ke atas
kini senja mekar aku masih
di bukit menghadang laut.
Suara angin bertegar
melayanglah kau, Icarus
meliuk dalam udara, terbanglah!
aku bersamamu
terpisah dari graviti
ke langit biru
lalu benang terputus.
Canberra
5 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013
bangkitlah angin barat
antara laut dan pantai
aku menghulur benang
melayanglah ke atas.
Kau melayang ke kanan,
bergerak sedikit ke atas
kini senja mekar aku masih
di bukit menghadang laut.
Suara angin bertegar
melayanglah kau, Icarus
meliuk dalam udara, terbanglah!
aku bersamamu
terpisah dari graviti
ke langit biru
lalu benang terputus.
Canberra
5 Mei 2012
*AP Volume 1, 2013
Thursday, 3 May 2012
Kau, Gazelku* (Cinta)(Suasana)
Kau Gazelku,
akan kudirikan tembok besar
melingkari jilbab hatimu
berikan aku kaki tanganmu
kita menari di lantai tango.
Bagai tali malam bergesek
dibisikan lagu masa silam
Qadukka-i-mayyas
aku debu di tumitmu.
Kau adalah gelas kristal
kugilapmu dengan kain sutera.
Mari, Gazelku, naiklah ke atas
pelana kuda sembaraniku.
Gazelku,
kubawa kau ke Andalusia
dalam lagu dan puisi.
Kesabaran itu adalah
pengorbanan
penantian itu adalah
kemenanganmu.
Canberra
4 Mei 2012
akan kudirikan tembok besar
melingkari jilbab hatimu
berikan aku kaki tanganmu
kita menari di lantai tango.
Bagai tali malam bergesek
dibisikan lagu masa silam
Qadukka-i-mayyas
aku debu di tumitmu.
Kau adalah gelas kristal
kugilapmu dengan kain sutera.
Mari, Gazelku, naiklah ke atas
pelana kuda sembaraniku.
Gazelku,
kubawa kau ke Andalusia
dalam lagu dan puisi.
Kesabaran itu adalah
pengorbanan
penantian itu adalah
kemenanganmu.
Canberra
4 Mei 2012
Cerita Duta (OZ)
Aku tamu, kau tuan rumah
rumah seorang diplomat Austria.
Kami bicara tentang dunia tunggang terbalik
ia pun senang jiwa asianya tergelitik
kulitnya putih salji
paruh hidung cerek air panas.
Aku mulai tentang cerita anak yang lahir
di Hospital Boral, NSW, 1983.
Ketika bayi itu lahir
ibu melihat-
punggungnya biru-biru lebam.
Jururawat datang
sedikit sinis lalu berkata,
"Don't you worry love,
that is Monggolian spot."
Kulihat mata Duta
bagai melihat gasing berputar.
Katanya,
"Masa anak pertama kami lahir di Austria
pada punggungnya serupa, biru lebam
Monggolian spot."
"Ingat, bangsa Hun dari Asia.
pernah...." sambil meneguk,
Begitu." jawabku cepat.
Monggolian spot, aku tak pernah menanya ma
di bumi Southern Cross
kami melurutkan wasangka
masih kental dari debu jalanan masa silam.
Canberra
3 April 2012
rumah seorang diplomat Austria.
Kami bicara tentang dunia tunggang terbalik
ia pun senang jiwa asianya tergelitik
kulitnya putih salji
paruh hidung cerek air panas.
Aku mulai tentang cerita anak yang lahir
di Hospital Boral, NSW, 1983.
Ketika bayi itu lahir
ibu melihat-
punggungnya biru-biru lebam.
Jururawat datang
sedikit sinis lalu berkata,
"Don't you worry love,
that is Monggolian spot."
Kulihat mata Duta
bagai melihat gasing berputar.
Katanya,
"Masa anak pertama kami lahir di Austria
pada punggungnya serupa, biru lebam
Monggolian spot."
"Ingat, bangsa Hun dari Asia.
pernah...." sambil meneguk,
Begitu." jawabku cepat.
Monggolian spot, aku tak pernah menanya ma
di bumi Southern Cross
kami melurutkan wasangka
masih kental dari debu jalanan masa silam.
Canberra
3 April 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)