di ruang tengah
aku duduk di atas sofa
demam musim dingin
para undangan memenuhi ruangan
cocktail party
aku meneguk segelas air mineral.
pada dinding foto-foto masa silam
di atas lantai permaidani farsi
langsir putih
gelas kristal
aku menyulami Eugene Von Guerard,
sentuhan matanya dan gerak jejarinya
alam berkocak di atas kanvas
cita-rasa menyatu
tiap gores, pencernaan warna
dan bentuk
kehalusan dan keindahan.
eropah dan australia
terhimpun dan bertakhta
pada karya peninggalan.
di mata pencinta
keindahan itu:
pemandangan alam
hadiah sejagat
dan zamannya.
Canberra
25 April 2012
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 24 April 2012
Esok* (Cinta)(Suasana)
kerana di saat begini ketika berdiri di persimpangan
menoleh ke depan atau mengambil jalan lain.
kudakap engkau ke dada tak ingin kulepaskan
melepaskan dari genggaman dan beralih pergi
bukankah itu suatu kekalahan tanpa perjuangan.
dari dulu diajarkan supaya memiliki sekalipun
hanya sepasang songket yang terindah
kalau tidak kain batik, cincin jari manis atau
gelang emas sebagai yang ditinggalkan.
Kata saudaraku, pengorbanan hanya bemakna
dititip dengan ilmu-
sekiranya engkau meletakkan telingamu
di atas tanah itu,
tentu engkau masih mendengar
degup jantung dan kepul-kepul nafasnya
di halaman engkau melihat
rama-rama menari-nari dan menerjang
udara pagi.
Ini adalah cerita orang tak bernama
sejarah mengerdip mata berlalu pergi
di laut pasang, di lembah pergunungan
di rimba jati ada perjuangan dan pergelutan,
lagu-lagu dari suara hatimu dalam musik
bambu, gong atau ketukan kayu kering.
Minumlah, ada daun limau dengan air panas.
makanlah, ala-kadarnya.
Apakah peninggalanmu,
tanah sejengkali atau tanah pusaka:
barangkali di tanah danau, gerapan bukit
di tanah desa, di situ engkau menjumpai
dirimu dan moyangmu.
Sebuah rumah
sebuah mimpi
esok adalah galeri dari masa silam.
Kita menganyam songket
atau mencetak batik
dalam adunan warna tradisi
dan benang emas
di malam keniri.
Segenggam tanah
tak akan kulepaskan
kerana inilah nadi untuk hari bernama esok.
Canberra
24 April 2012
Sunday, 22 April 2012
Maut (Ketuhanan)
Dalam ketenangan rupanya
ada perubahaan pada langit
mendung melingkari sinar matamu,
suaramu semakin keras
sebentar hujan angin
bermulanya musim tsunami
di lautan teduh.
Kulihat pepohonan kelapa
condong ke timur
gelora gelombang
ketenteraman desa Losiolen terusik.
Di hujung tanjung
aku menafsir laut dan pulau
dalam tari musim
hatiku tergerak meniti gelombang
di tengah lenggang laut
pulau Mani dan Somata
daratan yang resah
dan samar-samar desa.
Kuketuk pintu langit memanggil-Mu.
aku adalah
benda yang mudah rapuh.
Canberra
24 April 2012
ada perubahaan pada langit
mendung melingkari sinar matamu,
suaramu semakin keras
sebentar hujan angin
bermulanya musim tsunami
di lautan teduh.
Kulihat pepohonan kelapa
condong ke timur
gelora gelombang
ketenteraman desa Losiolen terusik.
Di hujung tanjung
aku menafsir laut dan pulau
dalam tari musim
hatiku tergerak meniti gelombang
di tengah lenggang laut
pulau Mani dan Somata
daratan yang resah
dan samar-samar desa.
Kuketuk pintu langit memanggil-Mu.
aku adalah
benda yang mudah rapuh.
Canberra
24 April 2012
Rindu (Puisi)(Metamorposis
Kucuba meraihmu dengan
tanganmu
tak tercapai engkau semakin menjauh
Kuikutimu dengan pandanganku
tapi engkau menghilang tanpa mengucap salam.
Kukenangmu tiap malam
membolak-balik lipatan kenangan.
Kucarimu dalam mimpi kemuning
bayanganmu meredup di kejauhan
Kuingin mendengar suara manismu
menipis tenggelam bersama senja sirkah.
Kupejam mata supaya harum baumu
terbawa angin lautan ke pulau sepi.
Dalam kerinduan itu
inderaku semakin kendur
lalu aku merelakan sepasang hati
menggembara ke tiap penjuru
langit dan bumi
akhirnya aku menemukanmu
di pinggir hati.
Honiara
24 April 2012
Kata Nama (Ketuhanan)
sudah ia persiapkan sebuah nama
mengingatkan Adam mengutip kata nama.dari kata nama kepada kata kerja
sebutan yang dipegang sampai hayat.
dalam doa dipohon
rahmat pada sebuah nama
nama punya maksud
nama merangkum sifat
selalu diajarkan memilih sebuah nama terbaik
kerana di situ bermulanya kehidupan.
Canberra
23 April 2012
Lembah hijau (Ketuhanan)
Tanah ini senantiasa subur
dalam semua musim.
Benih yang disemai
tumbuh menjulang ke langit.
Di sini bertuduhnya musafir
mendakap mimpi.
Cengkaman kakimu seluas benua
dakapanmu seluas langit.
Lembah hijau
keindahan yang sempurna.
Sentuhan-Mu
air yang mengalir ke taman.
Canberra
23 April 2012
Jerami Waktu (Ketuhanan)
Aku merebahkan diri di pinggir malam
sekujur tubuh ini
bukankah setiap liuk dan olah tubuh ini
urat-urat halus sampai ke nadi
dari kepala sampai ke hujung kaki
sebuah khazanah dalam sorotan sejarah.
Engkau masih belum puas bertanya
pada parut yang membekas pada kulit
apalah yang ingin kukisahkan
mereka pun tak ingin mengerti
yang dikatakan kemuliaan dan penghormatan.
di setiap keratan bagai tanjap menusuk ke jiwa raga.
panah-panah yang dilepaskan dari busur
dendam yang angkuh.
Aku pun tak akan menjawabmu
kerana penjelasan mengundang tafsiran keliru.
lalu persiapkan mereka yang datang kemudian
hakikat sebuah sejarah bisa menjadi igau di siang hari.
kata sahabatku,
sekalipun segala kebaikanmu
sekali engkau terseliuh di jalan pulang
hapus tenggelam dalam gelora gosip
dan dendam khianat.
Mengapa engkau membiarkan
penyesalan hinggap
di pepohonan hati
mengapa berduka lara.
malam kemuning menyebak harum.
Mari sayang, akan kuceritakan padamu
bagaimana mendiamkan gelak tawa mereka.
seorang sahabat mulus
sebutir bintang di langit-Mu.
tenang-tenanglah engkau mendengar
kisah talha pada Rasulullah melebarkan tangannya.
kerana kasih dan keesaan-Mu
pengorbanan dan maut
tak akan gusar dan berganjak balik
sekalipun panah-panah itu
menembusi kulit sekujur tubuh dan perihnya
adalah kelazatan samawi.
Dalam diam tafakur
aku merelakan lembaran hari-hariku
yang terbang ditiup angin di jerami waktu!
Canberra
22 April 2012
**Antologi Puisi "Zikir Cenderawasih, oleh Haji Bung Johar, Sabahuddin Senin dan Haji Domeng, Borneo Top Publishing House, 2014.
Subscribe to:
Posts (Atom)