Sunday, 22 April 2012

Puteri Gunung Ledang (Perempuan)

Bagaimana aku bisa melupakanmu
Puteri Gunung Ledang
begitu namamu disebut-sebut
engkau sebuah lambang murni
hidup dalam semaian waktu.

Puteri Gunung Ledang
ketika engkau pula dihadapkan
pada kepalsuan dan ketamakan
paling tidak kau bisa berdiri
dan menyatakan fikiranmu
kemuliaan seorang wanita.

Puteri Gunung Ledang
kemampuan bertindak dan bersuara
keberanian bersempadan dan bijaksana
penyataan sukmamu bahasa beradab
ketangkasan seorang wanita jati diri.

Dalam memori kau telah hadir
inspirasi turun sepanjang zaman
legenda yang terpahat dalam sukma
terus-terangmu mendiamkan kelicikan.

Canberra
22 April 2012


*Antologi Puisi "Zikir Cenderawasih, oleh Haji Bung Johar, Sabahuddin Senin dan Haji Domeng, Borneo Top Publishing House, 2014.

Dame Kiri Te Kanawa (OZ)



Dewan sunyi sebentar
aku di antara penonton duduk diam
menggauli gerak-gerak fikir
yang masih terbang bersayap.

Di atas pentas jambangan  bunga lily putih
malam ini, mataku separuh terpejam
lampu penonton gelap,
sorotan lampu di atas pentas
Dame Kiri Te Kanawa
kebanggan Maori ini
bergerak segak ke tengah pentas
penonton bertepok tangan.

Tiap mata pada seorang diva
gaun labuh warna turqoise
pemain piano memulai acara
gerak tangannya  lembut menyentuh
piano lalu program pun mulai
genta rasa Diva  Maori.

Aku memancing lamunan
dalam kelunakan sebuah lagu.
sehari sebelum ini
jauh di kepulauan Lautan Teduh
gembur ombak hangat malam
harum bunga kemboja
sambil menghirup peradaban
santai dalam remang-remang alaf 21.

Katanya,
kami ingin seperti kalian
meraih peradaban yang tinggi.

Ketika aku menggulung langit fikir
Dame Kiri Te Kanawa
menamatkan program, tiga lagu
tapi, penonton masih bertepok
meminta tambahan lagu.
Di jalan pulang
dalam suit hitam dan kemeja putih
aku mencari rembulan
di langit lautan teduh.

Canberra.
22 April 2012

Cinta (Ketuhanan)

Bila rasa kasih mengalir jauh di serambi hati
segalanya dilihat dalam keindahan yang murni
kata-kata ditenun dari suara hati mimpi musim bunga
mata yang memberi menggetarkan ribuan rasa.

Pada biru langit ketenangan itu keabadian yang mulus
menyebutmu menggenapi kerinduan seorang penyair
hadir namamu dan penggulangan setiap kalimat
adalah menjadi songket tenun lambang kasih bersemi.

Ya Rabbi, sekiranya ini suatu kelemahan diri
samasekali bukan hujahku mendahulukan kasih sejati
di riba malam atau di sendi siang gemilang
Engkau masih sang rembulan yang bersemi dalam diri.

Kita adalah sepasang burung merak di taman samawi
sekali-sekali gemerincing tarimu mengusik sepasang hati.

Canberra
21 April 2012
*Volume 1, 2013

Friday, 20 April 2012

Bunga Iris* (Bunga) (Metamorposis) (*HE)

Bukan khayalan
kapal terbang telah mendarat
Udara musim gugur
Di luar sepi
Canberra tenang di permukaan
musafir pulang
bau lautan masih tercium
tapi di sini
pohon-pohon di sepanjang jalan
berganti wajah.

Salam kau ucapkan
sekuntum bunga Iris
warna unggu
kembang belum musimnya.

Malam tadi
di bawah sinar lilin
Honiara, hujan di puncak bukitmu
air lumpur mengalir
masuk ke desa-desa di pinggir laut.

Pada langit malam
bintang-bintang bersembunyi
di sebalik langit mendung.
Dalam diam kau seperti bayang malam
terbang menjauh tanpa menoleh.

Bila kata terperangkap
matamu cuba memberi makna
genta rasa menemukan maksud.
Lalu di lautmu
Guadacanal semakin kecil
perlahan-lahan hilang dan menyerah
pada kegelapan malam.


Honiara/Canberra
20 April 2012
*Tersiar di akhbar Harian Ekspress 25 September 2016

Wednesday, 11 April 2012

Biar Sesaat (Perempuan)

Berilah aku biar sesaat merenungkan pardah sebuah malam
mengingatimu anugerah Tuhan yang paling indah.

Demi waktu engkaulah jannat yang kuraih
ketika sendiri kumengenangmu dalam doa
seribu janji jadi sempurna aku masih memanggil namamu
kedamaian hanya pada riba seorang ibu.

Dalam ketenangan, kau, Scheherezade, bercerita
rupanya, keangkuhan dan kezaliman pun hanggus
pada kasih yang terpencar dari mata yang redup
seribu satu malam, kemenangan yang tulus.

Pada ribut dan tofan, bencana dan tipu muslihat
kau menelusuri malam-malam pertarungan
sekalipun begitu, Ulysess, menemukan Penolope
dalam taman musim semi itaat seorang isteri.

Aduhai, bagaimana aku bisa terhibur
memperjudikan sebuah hati, Draupadi
sehasta demi sehasta kain sarinya lurut
tapi kejahatan itu tak berputik, kegilaan sang suami.

Namamu, Khadijah,  rembulan pengorbanan
menyebutkan namamu, lambang mahkota
jati seorang wanita soleh
kegenapan cinta qudus dari kesempurnaan.

Dalam kerinduan itu, kejuitaanmu saksi zaman
memang kita selalu mengharapkan yang terbaik
padamu, Aisha, yang menambat jiwa Muhammad
perutusan kasih dan keindahan rembulan.

Honiara
11 April 2012


*Antologi Puisi "Zikir Cenderawasih, oleh Haji Bung Johar, Sabahuddin Senin dan Haji Domeng, Borneo Top Publishing House, 2014.

Monday, 2 April 2012

Wahai! Saudaraku, 11* (Metamorposis)

Wahai! saudaraku,
kita telah menerpa jauh
sesekali menoleh
menundukkan mata
supaya mendengar lagi.

Aduhai! luka-luka terhiris
pada bulan pudar kesiangan
bukankah tiap hati
tiap resah gelisah
telah diberi peringatan.

Wahai! saudaraku,
mau ke mana selepas ini?
gencar menerobos cekrawala
menggali pusar bumi!

Di malam bistari
kau bisikan ke telingaku
'belum tumbuh gigi
sudah pandai baca kitab.'

Wahai! saudaraku,
beri aku kepatuhan Ismail
menggenapkan mimpi Ibrahim
beri aku kekuatan Yusuf
ketika aku menerobos
ke dalam kelam malam.

Berilah aku nekad Musa
biar lidahku lincah
mematahkan tipu-helah Firaun
beri aku kesabaran Isa berdoa
di taman Getsemeni.
beri aku sekelumit
sentuhan jiwa agung,
Kekasih-Mu, Muhammad.

Wahai! saudaraku,
kata-kata lebur
gelombang nafas kendur.

Wahai! saudaraku,
biarkan aku lelapkan mata
mengenangkanMu.

Honiara.
4 April 2012