Tanah liat
tanah peribumi
setenang lautan damai
setinggi puncak gunung
seindah samawi
agung
suci
karunia dan
kerinduan abadi.
Tanah liat ini
di tangan kasih-sayang
terpelihara dan
terus dilindungi.
Tanah liat ini
keindahan kekal abadi
wujud yang sempurna
berteduh di halaman-Nya.
Honiara
19 September 2011
*ITBM Jun 2015
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Friday, 23 September 2011
Penari Bertatoo (Pasifik)
di lapangan terbuka
sekelompok penari lelaki bertatoo
melebarkan dada, mengalai
mulai berjingkit ke kiri, ke kanan.
suara korus sebagai latar.
Penari lelaki bertatoo
sesekali menyemak diri
ketukan kayu
mereka berkeliling, berhenti
sambil memegang bambu.
Senja luntur
mereka menceduk
memori yang keruh
mengauli adat-tradisi
yang semakin kendur.
Honiara
19 September 2011
Wanita Renbel (Pasifik)
Terjangan suara itu melambung
ke dalam udara panas malam
lalu melantun ke lantai tanah pribumi
bagai gelak anak beramai
mereka menyaji nasi bersantan
ikan dan sayur berkuah
aroma yang membuka selera.
Malam itu,
mereka bercerita seperti malam sebelumnya
berkumpul dan mengurut malam sampai ke fajar
kerdip-kerdip cahaya lampu kerosen
diterjang lembut angin laut
di sini, mereka duduk menganyam daun pandana,
menganyam sepi malam ke dalam dirinya.
Honiara
17 September 2011
*Renbel itu singkatan Pulau Rennel dan Pulau Bellona di Solomon Islands. Penduduknya dari etnis Polynesian.
ke dalam udara panas malam
lalu melantun ke lantai tanah pribumi
bagai gelak anak beramai
mereka menyaji nasi bersantan
ikan dan sayur berkuah
aroma yang membuka selera.
Malam itu,
mereka bercerita seperti malam sebelumnya
berkumpul dan mengurut malam sampai ke fajar
kerdip-kerdip cahaya lampu kerosen
diterjang lembut angin laut
di sini, mereka duduk menganyam daun pandana,
menganyam sepi malam ke dalam dirinya.
Honiara
17 September 2011
*Renbel itu singkatan Pulau Rennel dan Pulau Bellona di Solomon Islands. Penduduknya dari etnis Polynesian.
Lelaki Tua Guadacanal (Pasifik)
Lembut Sutera Pagi
di atas bukit menghadang ke laut
Pulau Savo dan Gela jernih tanpa kabus perak
lelaki tua Guadacanal bertongkat datang menyapa.
Raut wajahnya terhimpun
cerita-cerita yang tertimbus
ranum dalam sayat usia
sekalipun begitu ia masih bisa tersenyum
kulitnya coklat hitam berkilat
ia bersuara ramah, tangannya bergetar sedikit.
Aku lahir dua tahun sebelum
perang dunia kedua usai.
Masa meriah kemerdekaan
aku telah berkeluarga
baru tahun tadi
isteriku pulang ke alam baka.
Lelaki tua Guadacanal
anak pribumi sarat mengilap masa depan
ketika perang etnik di hujung kurun
tidur malamnya gundah dan kacau
abu perang jadi debu beringat
yang menganggu jalur gemilang.
Pekat sisa pinang dan korokua pada celah gigi
ia masih mau mendengarkan ceritanya
sekalipun mendengarnya telinga asing
rokok, katanya. Tangannya mengambil lemah
memandang ke langit, mentari masih ramah
rokok Pall Mall dibuang pontongnya.
Mentari senyum pudar
tembakau tadi dimasukkan ke dalam berkas plastik
perlahan dan hati-hati.
Ia mengambil secerik kertas buku
menggulung tembakau
setelah puas ia mendekatkan wajah
membedik macis pada rokok yang melekat
pada bibirnya
menghisap puas, suaranya bercerutu,
diam-diam beredar.
Ia adalah lelaki tua Guadacanal
mentari lembut, laut Guadly berkaca
aku baru mengenalnya dalam setitis lebah madu.
Honiara
16 September 2011
*Perang Ethnik antara etnis Guadacanal dan Malaitan dari tahun 1999-2003 meninggalkan peristiwa berdarah.
Honiara Kelabu (Pasifik)
di pinggir jalan berdebu
deretan kedai runcit
ia duduk sabar meniti siang.
Bus White River, King George VI, Naha dan Kukum
mundar-mandir sibuk menggoda penumpang.
Honiara, sekalipun mentari mengupas kulitnya
ia tak pernah mengeluh,
kerana di kotak meja
ada rokok Pall Mall, pinang muda, serbuk kapor dan korokua
menunggu langganan merata dari atas ke bawah.
Honiara, kota pinang merah, jernih selalu langitnya
gadis berseragam, langganan baik
mengopak pinang muda, mencerca kapur
mengunyah korokua sambil meludah
langit berputar, Honiara, merah pinang
ketagih.
Honiara, selalu merah.
Honiara
16 September 2011
Apakah Ceritamu? (Pasifik)
Segumpal malam
tergantung
di bumbung langit.
Apakah ceritamu hari ini?
Merenung
butir-butir bintang
ke sasar
di hujung malam
di lantai itu
ia terbaring
memandang sepi
berlabuh.
Apakah ceritamu hari ini?
Pada malam malaikat bercanda
pelaut mencari bayangan
sebuah daratan
katamu, kelambu telah digulung
jendela dibuka
tabir hari tersingkap sudah.
Apakah ceritamu hari ini?
Honiara
13 September 2011
Detak Waktu*(ITBM)
Kulihat bulan yang gundah
bintang menjauh dalam resah waktu
melihatmu dalam mimpi kejora.
Kulihat tapak-tapak kaki
hilang dalam lembayung senja
memeluk-Mu dan sirna.
Aku masih di sini
membiarkan siang berkelana
malam saksi
kerinduan yang mekar.
Doa-doa rindumu bersayap
masih berpegang janji
aduhai kejora
Kau masih belum terlambat.
Honiara
11 September 2011
*ITBM Jun 2015
bintang menjauh dalam resah waktu
melihatmu dalam mimpi kejora.
Kulihat tapak-tapak kaki
hilang dalam lembayung senja
memeluk-Mu dan sirna.
Aku masih di sini
membiarkan siang berkelana
malam saksi
kerinduan yang mekar.
Doa-doa rindumu bersayap
masih berpegang janji
aduhai kejora
Kau masih belum terlambat.
Honiara
11 September 2011
*ITBM Jun 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)