Tuesday, 12 April 2011

Kasut (OZ)

Di sudut almari ada sepasang kasut
kesabaranmu seluas langit siang
kesetiaanmu air terjun mengalir deras.
Kita telah mengharungi gelombang
Jalan-jalan sunyi di perhentian terakhir
mendatangi daerah-daerah rawan.
Luka-duka disembunyi dalam derap.
Pada bintang-bintang di waktu subuh
bila senja tiba kau tak pernah bertanya
di lapangan sunyi kudirikan khemah.

Dingin hujan merembes pada debu-debu
di kulit wajah, tapak-tapak yang haus
masih kuseret langkah kaki yang lelah
menerpa ke jalan lereng-lereng bukitmu.
Malam sunyi langkah-langkah mengusik
tidur nyenyak desa-desa di pinggir pantai
atau ibu yang tua belum tidur di serambi.
Kedatangan ini gilapan kasih, aku telah
berjalan jauh mencarimu ke mana saja.

Sepasang kasut aku telah bersamamu
menjalani tanah lumpur batu kerikil
memasuki hutan liar, di sungai duka
mengharung tofan ke pulau-pulau jauh
berjengket di desa-desa tak bersahabat
di lembah pergunungan yang dilupakan.
Berpergian sendiri di tepi malam, kau
masih kekasihku, bersama menoreh
siang dan memeras rindu di celah hati.

Canberra
12 April 2011

Thursday, 7 April 2011

Malam Uzla*(ITBM)


Kau telah tiba
di pelabuhan
malam mulakat
mimpi miris
mencuri lelap
di ranjang renjana
lirik  mata
tari terjang gazel
melipur lara
renjis air mawar
pada wajah malam uzla
lalu kau rincis
rindumu pada
malam merintik.

8 April 2011

*ITBM Jun 2015

Memaknakan (Iklim)(Suasana)*

Hujan telah berhenti, aku akan mengatur langkah
pesan kelelawar telah kusambut, panggilan si burung merak pula
aku mulai menafsir gerak angin, malam mubarak, tari dedaun
kusingkap siang, keindahan sempurna, cahaya berkaca
aku ingin jujur pada gerak dan nilai pada sebuah kata
aku masih bernafas maka kugauli waktu menemukan pati.
Maafkan, kelancangan sepotong lidah, kekadang aku asyik melayaninya
ambilkan bejana, biar kuminum, sebentar nanti aku berpergian.
Sebenarnya tak usah terlalu dalam bertindak, sederhana pada segala.
Akhirnya aku mengerti sepotong ayat, kalau ada pintu masuk tentu ada pintu keluar.

Honiara
7 April 2011

Hati Tamyiz*(ITBM)


Alangkah baiknya
benih-benih fikiran
tertimbus tumbuh
condong ke mentari
sekelip selaksa daya
mengangkat martabat
insan runtuh
menjadi debu belerang
yang anihnya
kita masih asyik
melepas serigala
ke dalam rimba
hati-hati luka
ketika akar ilmu
menjalar ke jantung langit
dosa-dosa pun mengepul udara
dalam pembuluh darah
mengalir harapan
dan sebuah takdir
salam malaikat
mengapa menimbus
kebenaran yang sahih
sedang hati telah tamyiz
pintu langit
telah terbuka luas
dari masa silam
tanyamu disambut
sekarang tak usah
berlakon algojo
dan pendera zaman
jawaban itu sudah tersurat
para malaikat
mundar-mandir mendoakan
para mutaki
hujan semi marifat-Mu
terus membawa
khabar samawi
ke bumi gersang.

7 April 2011

*ITBM Jun 2015

Unggu* (Cinta)

Tidurlah sayang, kutitip purnama dalam mimpimu
pancang kata-kataku memagari kerinduan yang kental
malaikat turun tamu yang membawa khabar
salam kurnia lembah hijau musim bunga.
Aku terus menenun doa kain sutera sulaman
dipilih warna unggu kerana aku mencintaimu
laut kami dipertemukan rembulan tergoda
pada sapuan langit biru dua hati bersujud.
Di lapangan ini kubuat tenda dari malam tafakur
dalam sunyi lapisan itu tersingkap satu demi satu
aku pun tak sendirian derap langkahku pasti
pesisir pohon kelapa, tenang laut biru, pantai pasir putih.

6 April 2011

Mesapol, Sapa Dan Salam, Puisi Buat Juriati Bakri


Dari pagi nenek tua menatap rumpun bambu, pohon cempedak, limau kapas
salam pada langit biru kerana mengusir awan mendung menjauh ke pedalaman
menarik nafas panjang mengendur perlahan dan terasa segar
kilat matanya pada pepohonan hijau, jalan ke bukit, semak-semak pohon getah
alam merelakan nenek tua sibuk-sibuk mendandan, menghias halaman.
'burung punai bertenggeklah di ranting itu biar nanti tamu nenek bisa melihat.
monyet bergayutlah dari pohon ke pohon, di sini selamat tak ada pemburu bersenapang.
bau hutan di waktu pagi, minyak wangi dan odor yang menyenangkan
usah bersedih pohon bambangan kalau kau tak berbuah, nenek maafkan.
wah, rumpun bambu, engkau masih sihat, sayur rebung gulai santan.'
matahari tersenyum mengenyit mata pada nenek
di anak tangga nenek berdiri puas, katanya perlahan,
alhamdulillah sambil mendongak ke langit.
ketika angin diam-diam melintas, mengusik tin-tin kosong
mencipta keramaian, kesunyian pada nenek tua terhibur
sepi lebur dalam danau sekilas.
kini masa berangkat ke bukit, biar awal menunggu dari ditunggu
di bawah pohon cempedak nenek tua menanti
matanya memandang ke bawah bukit menunggu tamu tiba.
rasa sabarnya telah kebal, alampun mengenal
sekejap-sekejap ia melihat ke arah rumah lama di kaki bukit,
semuanya siap berdandan dan berhias, tinggal menunggu tamu tiba.
nenek tua duduk, berdiri, berjalan, matahari pun kasihan,
sambil menulis-nulis di tanah pasir dengan ranting kayu kering
huruf-huruf abjad, cuba-cuba menulis namanya.
tamu masih belum datang, sabar kata angin melintas nanti kubawa khabar
embun telah lama kering matahari duduk di pundak nenek mengulang kata
ia tak mungkir janji, ia tak mungkir janji, nenek menuruni jalan pulang.
sunyi terusik sesekali tin-tin kosong bergegar ketika angin mencela
sabar kalian, tamu nenek pasti datang, dari jauh kereta datang mendekat
perlahan, mencari-cari pohon cempadak, janji penungguan itu.
sebentar nanti alam menjadi saksi, sepi hinggap pada nenek tua.
'nenek, nenek, nenek...' suara itu mendekat, nenek tua bangkit membalas
nenek fikir kau tak datang ti.... alam pun meramaikan. mereka berpelukan.
tadi ketika cucunya ke rumah lama, coret-coret nenek dengan ranting kayu
masih di situ dekat pohon cempedak.

6 April 2011

Tuesday, 5 April 2011

Guru (Malaysia)

kalau kau tanya ia seorang guru
ingatan itu menerpa pantai tak beralas
berdebur, bukan siksaan bagai buah yang tertebuk di pohon
antara langit dan bumi hanya garis lintang memisah
kalau aku katakan memang aku pemalu apa lagi bertanya
bukan bulan kesiangan tapi siang kucup bunga matahari
kilat-kilat cahaya di permukaan kolam
semakin jauh ke dasar pun ada tersimpan rahsia
wah, rupanya aku sudah lupa lagu bintang kecil
kudera lembut kenangan ini
sebelum loceng berbunyi aku meriah mendengarmu
kisah kancil, arnab, kura-kura, harimau, buaya
memang, akupun sepintar, sejaguh, setangkas hero.
Lawanku berkata, mengenal huruf dan nombor menyingkap peti pandora
kerana unggun api Promotheus tersiksa.
kau mengajarku berkata benar, celakanya berbohong
sudah biasa, orang pun tak mau berkata apa-apa
kebenaran mahkota yang hilang, diminta pengorbanan.
di lembah perjuangan, kisah purba ditangiskan, kehandalan wira
kau mengusikku dengan kisah-kisah seribu satu petualangan
bila siang tiba ia meninggalkan kota tradisi pergi berburu
bila malam tiba ia bebayang raksasa tersiksa dari belenggu.
sekarang aku tak malu bertanya, masih pendengar yang baik, terima kasih.

Canberra
6 April 2011